Apa yang ku tulis ini mungkin hanyalah impian seorang anak manusia yang dipengaruhi legenda dewi cinta ataupun keinginanku yang menginginkan cintaku dapat bangkit sendiri seperti legenda burung Phoenix.
Bagiku “(………)” bukan hanya sekedar nama seorang gadis, tapi sebuah puisi yang didalamnya bertahta mutiara-mutiara terindah yang pernah Aku salami. Kecantikannya telah mengajariku tentang makna keindahan dan menyajikan untukku senandung kehidupan.
Derail-derai waktu yang ku lalui dalam pelukan tangan-tangan cinta seperti ini adalah masa-masa penuh keindahan. Dunia baru yang serba asing tapi dipenuhi perasaan bahagia yang memenuhi setiap relung-relung kalbu, memenuhi otak dan perasaanku dengan warna pelangi sehingga melenakanku dari derita misteri kehidupan yang mampu mengubah kesunyian hari-hari menjadi malam yang penuh dengan alunan nafas yang menjadi musik penuh irama.
Diriku terhanyut kedalam relung-relung jiwaku sementara pikiranku mengembara terbang melintasi cakrawala terjauh dari khayalan.
Apa yang terjadi pada legenda romeo dan Juliet, dimana romeo dengan rela menyatukan tubuhnya dengan belati atas nama cintanya pada Juliet. Maka dirimu telah menuntunku masuk dengan rela kedalam surga cinta murni dan apa yang terjadi pada romeo terjadi pula padaku.
Entah bagaimana Aku harus melukiskan perasaan saat ini yang bila ku isyaratkan sebagaimana surga maka hanya ada satu bidadari didalamnya. Karena dengan segala kelebihan dan kekuranganmu dapat membuat keindahan mawar merah yang masih terbungkus oleh embun pagi menjadi layu dan akan membunuh dirinya sendiri jika bisa merasa iri kepada senyum manismu, dan kesenanganmu untuk bernyanyi akan membuat burung-burung berhenti bernyanyi dan harus terbang ke tempat lain dimana suaranya masih merdu terdengar.
Keagungan perasaan cintaku ini memiliki jemari sehalus sutera untuk seorang yang ingin memakainya. Tapi yang mencampakannya, cintaku akan mengeluarkan kuku-kukunya yang tajam, meremas jantung dan membuatnya menderita karena luka. Karena cinta adalah sekumpulan doa membumbung ke angkasa bersama harum aroma dupa.
Gadis kecilku…
Lewat sepasang mata indahmu yang selalu memancarkan cahaya keindahan, Aku melihat bidadari dari surga memandangku dan menjulurkan tangannya memberi inti pengetahuan dan inti dari cinta kasih yang paling mendalam.
Gadis kecilku…
Betapa berat beban hidup yang ku lalui. Tiada seberat menahan perasaan cahaya rindu yang berasal dari tungku cinta yang apinya telah kau sulut dengan sifat dan sikapmu yang penuh kelembutan dan kecantikannya yang teramat anggun sehingga tak ada kata-kata yang cukup ditulis oleh seorang pujangga ataupun dilukiskan oleh seorang maestro kanvas sekalipun. Meskipun kau tak pernah menghargai perjuangan-perjuanganku untuk memahami hasrat dirimu. Tak pernah!!
Pertama kali Aku melihatmu, Aku tertegun atas pemandangan yang begitu anggun. Ku coba sentuh jemarimu dan ku rasakan jemari sehalus kuntum melati putih. Dan perasaan aneh tiba-tiba menyergap hatiku. Segera ku pahami dirimu sebagai seorang gadis dengan perasaan setia dan penuh kasih sayang yang memandang sesuatu dengan mata jiwa.
Aku memandangmu dengan mataku yang sarat nestapa akan derita hidup dan merajutnya menjadi satu kumpulan keindahan alam yang ku rangkum menjadi satu dalam sesosok gadis suci. Meskipun tak terucap oleh kata-kata karena lidahku kelu oleh darah yang mengalir tersedat dan tertahan karena jantungku terselimuti oleh kekaguman karya indah tuhan. Dan memandang puncak keindahan serta kekaguman dari suatu keindahan mempunyai bahasa sendiri yang lebih agung dari lidah dan bibir.. uatu bahasa tanpa batasan masa yang meliputi segala perasaan umat manusia yang dipilih mendapatkan anugerah untuk bias mengalaminya. Bagi sebuah danau tenang yang menarik sungai-sungai berkidung dalam palungnya sehingga membuatnya terdiam.
Hanya jiwa-jiwa yang dipilih oleh keindahan yang bisa memahami arti keindahan yang hidup dan tumbuh bersemi. Itu membuat teka-teki dalam jiwaku. Dan Aku mampu melukiskannya lewat kata-kata tentang perasaanku saat ini. Karena saat itu adalah saat-saat penuh sensasi yang tak terlihat oleh mata hati dan mata jiwa yang berasal dari pancaran luhur jiwa dan hatimu yang tulus dan suci. Nama bahasa itu adalan DIAM, satu-satunya bahasa dalam hati.
Keindahan sejati adalah cahaya yang memancar dari kesucian jiwa yang menyinari tubuh. Seperti kehidupan yang dating dari dasar bumi dan memberi warna serta harum aroma pada sekuntum bunga mawar. Ini yang disebut cinta!
Cinta adalah satu-satunya kebebasan dunia, karena cinta adalah pembebasan. Dan tak ada satu kekuatan alam ataupun usaha manusia yang dapat membelokan arah cinta.
Dirimu telah dilengkapi oleh tuhan dengan keindahan jiwa dan raga dan itulah yang disebut dengan kebenaran yag nyata sekaligus maya, yang bisa ku pahami dengan cinta dan hanya bisa ku sentuh dengan ketulusan
.
Bagiku, dirimu adalah gadis sempurna seutuhnya dengan kecantikan jiwa dan raga tapi Aku merasa tak mampu melukiskannya kepada orang yang belum pernah mengenalmu. Berdosakah Aku bila ku katakan bahwa kau dua kali lebih cantik dari yang paling cantik sekalipun? Karena sungguh Aku tak sanggup melukiskan keindahan jiwamu pada orang yang belum pernah mengenalmu.
Gadis kecilku….
Aku mencintaimu dan kau dapat membaca kata-kata cinta dari mata ku dan dapat merasakan sentuhan cinta. Aku sangat mencintaimu dan tak ada seorang gadis yang ku cintai selain dirimu. Tapi Aku akan lebih terhormat untuk mengorbankan hati, kebahagiaan dan hidupku dari pada harus melarikan diri dari diriku yang sebenarnya
Jika kau tak bisa mendengar keinginanku, maka biarlah…
Karena teriakan bunga di dasar lembah memang tak akan terdengar oleh bunga di puncak gunung dan biarlah Aku menangis ditemani ratapan para malaikat yang mungkin lebih menghiburku
Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 April 2012
皿 Gerhana Mata 皿
Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.
Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan segelintir daun surga yang telah terlilit rapih.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan saling bicara seakan hanya siang itulah hari terakhir kami bisa saling bicara.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan beratnya kepala yang sedang ia pikul. Saya tetap merasakan suaranya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu. Di sanalah kami saling menjamu kerinduan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin? Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.
Dua tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir yang sekarang telah ku kubur bersama indah tubuhnya juga terkubur bersama indah sikapnya . Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa ada yang akan menemani…
Syamsul Ma’arif, 12 September 1992
LOVE
Tiyaz Elvinia Puteri, 21 November 1991
Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan segelintir daun surga yang telah terlilit rapih.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan saling bicara seakan hanya siang itulah hari terakhir kami bisa saling bicara.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan beratnya kepala yang sedang ia pikul. Saya tetap merasakan suaranya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu. Di sanalah kami saling menjamu kerinduan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin? Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.
Dua tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir yang sekarang telah ku kubur bersama indah tubuhnya juga terkubur bersama indah sikapnya . Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa ada yang akan menemani…
Syamsul Ma’arif, 12 September 1992
LOVE
Tiyaz Elvinia Puteri, 21 November 1991
Sabtu, 14 April 2012
Malam
Kembali saya harus berhadapan dengan malam. Kala semua kehidupan akan mengalami pembaringan. Kala semua keindahan akan menampakan sosok aslinya.tak terkecuali manusia sempurna yang selalu merasakan kedikdayaannya kala matahari masih menampakan diri.
Kembalinya malam yang menyeringai tiap-tiap kehidupan adalah saat-saat yang paling saya sukai. Karena hanya saat malamlah semua yang membuat saya merasa iri terlelap. Karena saat malamlah semua yang membuat saya seperti sampah yang terbuang terdiam. Entah mungkin karena mereka merasa kelelahan setelah seharian menipu saya dengan segala macam keindahan yang semu ataukah mereka merasakan saat malam tiba mereka tidak mampu berbuat apa yang mereka perbuat pada saya kala siang hari. Entah apa alasan mereka, yang jelas saat malam adalah saat saya yang beraksi pada mereka. Mereka yang membuat saya seperti sampah dan mereka yang mebuat iri akan merasakan seperti apa yang saya rasakan. Mereka yang mengajarkan saya untuk peduli pada mereka yang tidak pernah mempedulikan saya.
Dengan segenggam asa yang telah saya susun saat saya merasakan kebodohan-kebodohan yang mereka pertunjukkan pada saya, saya akan membuat mereka mengerang kesakitan. Saya akan membuat mereka menyaksikan betapa inginnya saya menghajar wajah-wajah bodoh mereka. Namun, saat saya akan melakukan semua hal yang teah saya rencanakan itu saya merasa tak kuat melakukannya. Apa karena saya sudah terbiasa dijejali kebodohan dan kesengsaraan yang mereka ciptakan? Apa mungkin mereka telah menghipnotis saya untuk tidak membalas apa yang mereka lakukan pada saya? Sejenak saya berpikir dan merenungi niatan yang akan saya lakukan. Namun yang hadir dalam pikiran saya hanyalah malam. Aneh.. Malam yang selalu membuat saya bersemangat untuk melakukan hal-hal yang tak bisa saya lakukan kala siang hari. Entah dari mana datangnya semangat itu, saya tak peduli. Saya hanya mempedulikan bagaimana saya bisa melawan mereka.
Saat malam benar-benar menjadi malam, keinginan saya untuk membalaspun perlahan menghilang. Saya semakin merasa aneh. Dari mana datangnya ketidakinginan itu. Padahal apa yang ingin saya lakukan hanyalah untuk menyelamatkan saya dari tindakan-tindakan bodoh dari apa yang mereka lakukan. Begitulah kejadian malam ini. Mungkah kejadian malam ini akan terulang lagi? Dan bisakah saya menghadapi segala macam keanehan yang saya sendiri tidak mengerti akhirnya?
Kembalinya malam yang menyeringai tiap-tiap kehidupan adalah saat-saat yang paling saya sukai. Karena hanya saat malamlah semua yang membuat saya merasa iri terlelap. Karena saat malamlah semua yang membuat saya seperti sampah yang terbuang terdiam. Entah mungkin karena mereka merasa kelelahan setelah seharian menipu saya dengan segala macam keindahan yang semu ataukah mereka merasakan saat malam tiba mereka tidak mampu berbuat apa yang mereka perbuat pada saya kala siang hari. Entah apa alasan mereka, yang jelas saat malam adalah saat saya yang beraksi pada mereka. Mereka yang membuat saya seperti sampah dan mereka yang mebuat iri akan merasakan seperti apa yang saya rasakan. Mereka yang mengajarkan saya untuk peduli pada mereka yang tidak pernah mempedulikan saya.
Dengan segenggam asa yang telah saya susun saat saya merasakan kebodohan-kebodohan yang mereka pertunjukkan pada saya, saya akan membuat mereka mengerang kesakitan. Saya akan membuat mereka menyaksikan betapa inginnya saya menghajar wajah-wajah bodoh mereka. Namun, saat saya akan melakukan semua hal yang teah saya rencanakan itu saya merasa tak kuat melakukannya. Apa karena saya sudah terbiasa dijejali kebodohan dan kesengsaraan yang mereka ciptakan? Apa mungkin mereka telah menghipnotis saya untuk tidak membalas apa yang mereka lakukan pada saya? Sejenak saya berpikir dan merenungi niatan yang akan saya lakukan. Namun yang hadir dalam pikiran saya hanyalah malam. Aneh.. Malam yang selalu membuat saya bersemangat untuk melakukan hal-hal yang tak bisa saya lakukan kala siang hari. Entah dari mana datangnya semangat itu, saya tak peduli. Saya hanya mempedulikan bagaimana saya bisa melawan mereka.
Saat malam benar-benar menjadi malam, keinginan saya untuk membalaspun perlahan menghilang. Saya semakin merasa aneh. Dari mana datangnya ketidakinginan itu. Padahal apa yang ingin saya lakukan hanyalah untuk menyelamatkan saya dari tindakan-tindakan bodoh dari apa yang mereka lakukan. Begitulah kejadian malam ini. Mungkah kejadian malam ini akan terulang lagi? Dan bisakah saya menghadapi segala macam keanehan yang saya sendiri tidak mengerti akhirnya?
Langganan:
Postingan (Atom)


